selasa kliwon

I've been here before and will come again, but I'm not going this trip through.

Kamis, 06 Desember 2012

dimana dia

bintang-bintang musnahkan dimensi sepi
sepi... sepi... yang bersahabat tenang
langit makin bercahaya merelakan sang sepi hilang


sepi hilang, permenunganpun mencapai puncak batasan
kuat berhenti berganti senja
warna mulai menampakkan wujud
dengan caranya memusnahkan sepi...
apa yang terjadi di kedua kubu ini
 


abu-abu apa sudah takdirmu terlihat dengan cara gelap?
berbisik seorang pecandu langit malam
kepada dewa keidealan

Rabu, 28 November 2012

Tembok yang mulai rapuh: eksistensi bahasa Indonesia yang kian terpinggirkan

Bahasa Indonesia merupakan salah satu wujud dari jatidiri, identitas dan ciri kepribadian bangsa ini yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Indonesia adalah suatu bangsa yang memiliki berbagai macam ragam kebudayaan. Dalam berbagai kesempatan sejarah mencatat tentang pentingnya bahasa Indonesia, salah satunya pada tanggal 28 oktober 1928 sumpah pemuda yang dibacakan oleh soegondo. dalam salah satu butir Sumpah Pemuda berbunyi, “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dengan adanya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, diharapkan hambatan komunikasi yang disebabkan oleh perbedaan latar belakang sosial, budaya, dan bahasa daerah dapat teratasi dengan bahasa pemersatu yaitu bahasa Indonesia. Pada UUD 1945 Pasal 36 yang berbunyi, “Bahasa negara adalah bahasa Indonesia”. juga menerangkan kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan sangatlah kuat. Konsekuensinya: adanya usaha pelestarian, pembinaan, dan pengembangan bahasa Indonesia baik dan benar adalah menjadi tanggung jawab setiap warga negara.
Namun seiring dengan perkembangan zaman, bahasa Indonesia yang harusnya menjadi kepridadian bangsa ini mulai terpinggirkan keberadaannya. Terkikisnya kesadaran anak-anak bangsa ini untuk mempertahankan dan menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah kita dapat lihat dengan banyaknya kosa kata asing yang serta merta terserap ke dalam bahasa kita. Bahasa jepang, bahasa arab, bahasa Inggris, dan yang lebih parah lagi banyak bahasa slang yang diadaptasi dari pengaruh bahasa-bahasa lain yang kian memperjelas betapa rapuhnya kepribadian bangsa ini.
Dewasa ini para pemuda lebih sering menggunakan bahasa-bahasa “gaul” seperti loe, gue, matchingin,nyobain, dan lain sebagainya. Disamping itu peranan media komunikasi sedikit banyak juga telah menyumbang kerusakan bahasa indonesia. Kita dapat lihat di acara atau iklan yang tayangankan ditelivisi dimana diperlihatkan banyak menggunakan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.
Namun terlepas dari itu, kita juga tidak dapat memungkiri penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar memanglah tidak mudah. Kita dituntut untuk memilih dan menggunakan kosa kata bahasa yang benar. Seperti kita harus bisa membedakan antara ragam bahasa baku dan ragam bahasa tidak baku, baik tulis maupun lisan. Di dalam ejaan kita dituntut untuk juga memahami diksi, kita menemukan adanya bermacam-macam tanda yang digunakan untuk membedakan arti. Segala macam tanda tersebut untuk menggambarkan perhentian antara , perhentian akhir, tekanan, tanda tanya dan lain sebagainya.
Maka dari itulah peranan istitusi pendidikan diharapkan dapat menjadi solusi untuk mengatasi hal ini, pembelajaran kepada anak-anak didik bangsa, pemberian contoh dari para pendidik untuk menggunakan  bahasa indonesia menurut kaidah bahasa indonesia dengan baik dan benar haruslah lebih diperhatikan. Media massa seperti televisi juga diharapkan lebih dewasa dalam menghadapi hal ini. Ketika penggunaan bahasa indonesia yang baik dan benar sudah tidak perhatikan, dibiarkan terpinggirkan keberadaannya akibat adanya kosa kata asing yang serta merta terserap ke dalam bahasa kita atau bahasa slang yang diadaptasi dari pengaruh bahasa-bahasa lain. Apa yang akan terjadi dibangsa ini? Apakah kita mau menjadi bangsa yang tidak berkejatiandiri? Diamana akhirnya kita akan menjadi bangsa dengan budaya yang bermacam-macan namun tidak berkesatuan. Apakah kita ingin menjadi bengsa yang mudah dicerai beraikan.

Senin, 26 November 2012

kosong bukan melompong

kosong masih kosong
isikah kita??

semua sepi
kosong
jangan bohong
nuruninya masih kosong, sama
sama dengan yang ompong

pengen kayak ompong
yang tidak kosong

lagi-lagi kosong
tambah berisi tambah kosong
biar semuanya melompong
yang tinggal bengong

bengong
menghadapi bengong
dia sudah bengong, bengong bangkit
kamu harus kosong tapi bukan melompong
menjadi si tua ompong yang giginya hancur karena berani ngomong

Sabtu, 10 November 2012

Bangunkan Pendidikan Karakter di Indonesiaku

Dewasa ini pemerintah sangat berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan. Mulai dari peningkatan 20% anggaran khusus untuk pendidikan, pembangunan-pembangunan sekolah rusak, peningkatan taraf hidup, kualitas guru dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya di lapangan, dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi ini. karakter berpendidikan masih saja kian terkikis nilai-nilainya. Mulai dari lunturnya nilai-nilai kebangsaan yang dianggap sempit seperti pendidikan moral berprilaku, patriotisme, dan nasionalisme yang di anggap tidak cocok dengan nilai-nilai globalisasi. 
Saat ini orang hanya sibuk dengan penguasaan berbagai aspek keilmuan yang kian begitu spesifik. Namun ia melupakan pengetahuan tantang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di berbagai instuisi pendidikan formal, seperti sekolah dan perguruan tinggi misalnya. Saya menjadi teringat akan kata-kata dosen filsafat di Universitas Brawijaya tempat perkuliahan saya. Ia mengatakan bahwa orang-orang saat ini hanya sibuk dengan urusan keilmuan-keilmuan yang kian begitu spesifik. Namun ia melupakan esensi pertama terciptanya suatu ilmu, dimana terciptanya suatu ilmu semata-mata untuk memudahkan terwujudnya kebutuhan-kebutuhan manusia, memuaskannya manusia satu dengan yang lain,  bukan hanya untuk kepuasan orang-perorangan.
Sebagian orang saat ini juga sudah mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan berdampak pada perilaku seseorang. Disamping perubahan karakter membutuhkan suatu perjuangan yang cukup berat, latihan untuk terus-menerus menghidupi nilai-nilai yang baik, ternyata faktor lingkungan sekitar juga tidak boleh terlepas dalam hal ini. Namun pada kenyataannya coba kita bandingkan pada sistem pendidikan di Indonesia saat ini yang secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif yang didapat dari orientasi sekolah-sekolah yang masih disibukkan dengan ujian semester, ujian akhir, hingga ujian nasional. Sudah saatnya para pengambil kebijakan, para pedidik, orang tua, dan masyarakat senantiasa memperkaya wawasan persepsi mereka bahwa ukuran keberhasilan tidak hanya semuanya dilihat dari prestasi angka-angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman-pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul. (intelektual, emosional, sosial, etika dan apresiasif).
Pendidikan karakter bukan hanya sekedar wacana tetapi realitas yang memang harus benar-benar diwujudkan, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan, dan bukan hanya symbol atau slogan, tetapi keberpihakan yang cerdas untuk membangun keberadapan bangsa ini. sesuai pada pancasila ideologi bangsa Indonesia ini yang juga ialah kristalisasi norma dan nilai-nilai luhur kebudayaan seluruh masyarakat Indonesia.
Terdapat juga beberapa aspek yang memerlukan penekanan dan perhatian yang lebih pada bangsa ini seperti aspek kejujuran misalnya. Karena melihat negeri ini masih banyak korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pada aspek keadilan, masih banyak sekali peranan hukum yang tidak melakukan esensi keadilan sesungguhnya. Selain itu fenomena tawuran antar warga, pelajar, dan antar etnis juga sangat memerlukan karakter toleransi, rasa hormat dan persamaan. Kita harus segera mengembalikan jati diri bangsa ini kembali. Jati diri sebagai bangsa yang unik, bangsa yang saling memahami antar kelompok suku budayanya, bangsa yang menjaga cintanya untuk berkesatuan, bangsa yang menganggap perbedaan adalah suatu indah yang mensejahterakan.

Dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa yang berlandaskan dengan pendidikan karakternya. Diharapkan anak-anak bangsa ini di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradap.

Senin, 16 Januari 2012

Tamu yang Indah

sekilas mengenangnya kembali yang indah.
ya, dia sahabatku dia yang tangguh mengarungi terjal tebing-tebing kehidupan ini. yang memiliki senyum indah ketika mendapat ujian. muhibbin namanya.
gaya tertawa lepas, sambil berkata kepadaku
"halah kri...kri.... wong urip yo ngene iki molak-malik. gak usah di sumpekne" yang selalu bisa membuatku tenang. penerimaanmu dan ketegaranmu menghadapi keluh-kesah hidup ini, menjadi gaya tersendirimu yang membuat kami begitu mengagumimu sobat.

sore itu kau meneleponku, menanyakan keberadaanku sekarang dimana.
dua hari berlalu setelah dia menghubungiku, akhirnya dia tiba di kota ini, akupun segera berangkat untuk menjemputnya di stasiun. siapa yang tidak senang,di temui oleh teman dekatnya yang sudah lama tidak pernah saling jumpa.
disepanjang perjalanan kami saling bercerita, melepas rindu, mengadukan kesulitan-kesulitan problema hidup yang masih belum tertangani.

singkat cerita tiga bulan lebih dia sudah bersamaku di kota kecil jember ini. kau masih seperti dulu sahabat selalu nekat kalau sudah punya niat, tidak pernah mau menyulitkan orang lain.
aku ingat suatu kejadian pada waktu itu dimana kita sama-sama belum makan sama sekali selama dua hari. kami saling memadang, lalu sama-sama tertawa terbahak-bahak "opo o raimu mu bin kok pucet, lesu yo?, podo aku yo iyo"
haduh.. betapa berdosanya aku ini membiarkan tamuku tidak makan sampai kelaparan seperti ini.
dengan enteng sekali dia menjawab, iya aku lapar tapi santai saja, diluar sana masih banyak orang yang lebih susah dari pada kita kri, tapi mereka masih tetap bisa hidupkan. tidak-tidak kalau kita sampai mati karna kelaparan.
ternyata benar tidak lama setelah itu tetangga sebelah mengantarkan makanan untuk kami, memang benar tuhan selalu mendengar doa-doa orang yang lapar kok kri, katanya sambil tertawa.

kau telah banyak mengajariku untuk menerima susah menjadi sesuatu yang sangat berharga sahabat. malu karna manja ketika mendapat ujian, malu karna tidak melihat masih banyak orang-orang lain di sekitar kita yang lebih susah, lebih terjal jalannya untuk mengarungi lingkar kehidupan ini.
namun sayang sekali aku tidak bisa lebih lama mengenal caramu memandang kehidupan ini sahabat. setelah lumayan lama mencari-cari pekerjaan di sini namun masih belum juga mendapatkannya, kau kembali meneruskan perjalanan ke kota semarang barat sana. dia memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren lagi.
seperti yang dia bilang dulu kepada saya. ya mungkin karna dia merasa masih kurang bekal untuk kembali di kehidupan luar yang serba buas ini, "aku masih ingin terus mencari bekal".

oh iya saya lupa menceritakannya, muhibbin adalah teman saya dulu waktu masih di pondok pesantren.
muhibbin, sekarang yang berada di kota semarang. seorang pendekar  yang sebenarnya, dia yang tak pernah lelah mencari-cari tujuan jalan-jalan tuhan dibuat, mencari-cari kesejatian hidup. dia seorang mantan kriminal yang mungkin orang-orang boleh bilang namun dia hanya seorang mantan. jangan pernah menjadikan masa suram kehidupan lalu seseorang menjadi jerat yang membuat seseorang tidak bergerak maju kearah yang lebih baik.

ibin, seorang sahabat yang sangat berani berjalan dan terus berjalan. tanpa uang sepeserpun dia sampai kemana-mana.
tanpa seorangpun yang membiayai, semangatnya untuk mencari-cari tuhan dimana-mana tak pernah padam.
panas bara semangatmu sampai saat ini masih aku rasakan bin
aku sangat ingin mendapatkan bara itu juga sahabat.

hidup memang terkadang memerlukan sejenak waktu untuk sekedar berjalanan. menemui guru-guru yang bertaburan di sepanjang perjalanan. hijrahlah agar kau dapat melihat berbagai macam warna dikehidupan ini.

Minggu, 11 Desember 2011

Apa KAU melihatku?

seringkali aku tak memahami apa yang sebenarnya aku pikir, semua kosong, buta lalu tertinggal hanya sepi. mungkin ketidak berdayaan yang sering membuatku berfikir.
aku hanya merasa betapa hidup ini begitu melelahkan. terlalu banyak sesuatu yang sepertinya mengadu, mengharap pada dinding kosong yang memburamkan. membuatku untuk harus berfikir dua kali walau hanya untuk sekedar tersenyum, seakan hati ini telah terluka parah. sesekali. kutatap gelapnya langit tanpa bintang, KAU tentu melihatku yang kelelahan ini mengarungi takdir-MU, merebut harta-harta yang terampas sibuta. dengan merangkak aku terus mencoba bertahan di jalan ini. tolong ulurkanlah tangan-MU... hingga ku dapat berdiri tegar terus berkekuatan. mengarungi kehidupan yang belum kujalani, menyeret apa yang aku harusnya seret.
tolong biarkan bintang-bintang bersinar lagi, hingga aku dapat menentukan arah. membagi-bagikan arah ini untuk tidak tersesat.

Sabtu, 05 November 2011

Satu

Kuyub sekujur tubuh seiring deru hujan yang terus berlalu.
dalam jauh perjalananku, membelah nurani penuhi pejuru kekosongan hati.
dalam sadar, terngiang lagi tutur lembut mu. yang dahulu telah mampu mengoyak keegoisan-egoisanku. Sayup-sayup ku dengar itu, menyusuri sendi-sendi otak kecilku.
seperti dejavu menyusuri dimensi lorong sang waktu, anggun senyum mu bawa riang letih tubuhku. sayang tapi sayang katup bibir itu kini hanya dalam lelamunku.
adakah aku mampu membuat dimensi waktu untukmu??
membalasmu
membelah langit mendung keterpurukan
menjadi senja kewarasan menerima
susah,payah dengan berbahagia.
menyongsong mentari baru jombang dengan tersenyummu.


08-feb-2009