selasa kliwon

I've been here before and will come again, but I'm not going this trip through.

Senin, 16 Januari 2012

Tamu yang Indah

sekilas mengenangnya kembali yang indah.
ya, dia sahabatku dia yang tangguh mengarungi terjal tebing-tebing kehidupan ini. yang memiliki senyum indah ketika mendapat ujian. muhibbin namanya.
gaya tertawa lepas, sambil berkata kepadaku
"halah kri...kri.... wong urip yo ngene iki molak-malik. gak usah di sumpekne" yang selalu bisa membuatku tenang. penerimaanmu dan ketegaranmu menghadapi keluh-kesah hidup ini, menjadi gaya tersendirimu yang membuat kami begitu mengagumimu sobat.

sore itu kau meneleponku, menanyakan keberadaanku sekarang dimana.
dua hari berlalu setelah dia menghubungiku, akhirnya dia tiba di kota ini, akupun segera berangkat untuk menjemputnya di stasiun. siapa yang tidak senang,di temui oleh teman dekatnya yang sudah lama tidak pernah saling jumpa.
disepanjang perjalanan kami saling bercerita, melepas rindu, mengadukan kesulitan-kesulitan problema hidup yang masih belum tertangani.

singkat cerita tiga bulan lebih dia sudah bersamaku di kota kecil jember ini. kau masih seperti dulu sahabat selalu nekat kalau sudah punya niat, tidak pernah mau menyulitkan orang lain.
aku ingat suatu kejadian pada waktu itu dimana kita sama-sama belum makan sama sekali selama dua hari. kami saling memadang, lalu sama-sama tertawa terbahak-bahak "opo o raimu mu bin kok pucet, lesu yo?, podo aku yo iyo"
haduh.. betapa berdosanya aku ini membiarkan tamuku tidak makan sampai kelaparan seperti ini.
dengan enteng sekali dia menjawab, iya aku lapar tapi santai saja, diluar sana masih banyak orang yang lebih susah dari pada kita kri, tapi mereka masih tetap bisa hidupkan. tidak-tidak kalau kita sampai mati karna kelaparan.
ternyata benar tidak lama setelah itu tetangga sebelah mengantarkan makanan untuk kami, memang benar tuhan selalu mendengar doa-doa orang yang lapar kok kri, katanya sambil tertawa.

kau telah banyak mengajariku untuk menerima susah menjadi sesuatu yang sangat berharga sahabat. malu karna manja ketika mendapat ujian, malu karna tidak melihat masih banyak orang-orang lain di sekitar kita yang lebih susah, lebih terjal jalannya untuk mengarungi lingkar kehidupan ini.
namun sayang sekali aku tidak bisa lebih lama mengenal caramu memandang kehidupan ini sahabat. setelah lumayan lama mencari-cari pekerjaan di sini namun masih belum juga mendapatkannya, kau kembali meneruskan perjalanan ke kota semarang barat sana. dia memutuskan untuk tinggal di pondok pesantren lagi.
seperti yang dia bilang dulu kepada saya. ya mungkin karna dia merasa masih kurang bekal untuk kembali di kehidupan luar yang serba buas ini, "aku masih ingin terus mencari bekal".

oh iya saya lupa menceritakannya, muhibbin adalah teman saya dulu waktu masih di pondok pesantren.
muhibbin, sekarang yang berada di kota semarang. seorang pendekar  yang sebenarnya, dia yang tak pernah lelah mencari-cari tujuan jalan-jalan tuhan dibuat, mencari-cari kesejatian hidup. dia seorang mantan kriminal yang mungkin orang-orang boleh bilang namun dia hanya seorang mantan. jangan pernah menjadikan masa suram kehidupan lalu seseorang menjadi jerat yang membuat seseorang tidak bergerak maju kearah yang lebih baik.

ibin, seorang sahabat yang sangat berani berjalan dan terus berjalan. tanpa uang sepeserpun dia sampai kemana-mana.
tanpa seorangpun yang membiayai, semangatnya untuk mencari-cari tuhan dimana-mana tak pernah padam.
panas bara semangatmu sampai saat ini masih aku rasakan bin
aku sangat ingin mendapatkan bara itu juga sahabat.

hidup memang terkadang memerlukan sejenak waktu untuk sekedar berjalanan. menemui guru-guru yang bertaburan di sepanjang perjalanan. hijrahlah agar kau dapat melihat berbagai macam warna dikehidupan ini.