Kuyub sekujur tubuh seiring deru hujan yang terus berlalu.
dalam jauh
perjalananku, membelah nurani penuhi pejuru kekosongan hati.
dalam sadar, terngiang lagi tutur lembut mu. yang dahulu telah mampu mengoyak keegoisan-egoisanku. Sayup-sayup ku dengar itu, menyusuri sendi-sendi otak kecilku.
seperti dejavu menyusuri dimensi lorong sang waktu, anggun senyum mu bawa riang letih tubuhku. sayang tapi sayang katup bibir itu kini hanya dalam lelamunku.
adakah aku mampu membuat dimensi waktu untukmu??
membalasmu
membelah langit mendung keterpurukan
menjadi senja kewarasan menerima
susah,payah dengan berbahagia.
menyongsong mentari baru jombang dengan tersenyummu.
08-feb-2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar