selasa kliwon

I've been here before and will come again, but I'm not going this trip through.

Sabtu, 10 November 2012

Bangunkan Pendidikan Karakter di Indonesiaku

Dewasa ini pemerintah sangat berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan. Mulai dari peningkatan 20% anggaran khusus untuk pendidikan, pembangunan-pembangunan sekolah rusak, peningkatan taraf hidup, kualitas guru dan lain sebagainya. Namun pada kenyataannya di lapangan, dalam era globalisasi dan keterbukaan informasi ini. karakter berpendidikan masih saja kian terkikis nilai-nilainya. Mulai dari lunturnya nilai-nilai kebangsaan yang dianggap sempit seperti pendidikan moral berprilaku, patriotisme, dan nasionalisme yang di anggap tidak cocok dengan nilai-nilai globalisasi. 
Saat ini orang hanya sibuk dengan penguasaan berbagai aspek keilmuan yang kian begitu spesifik. Namun ia melupakan pengetahuan tantang kaidah moral yang didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di berbagai instuisi pendidikan formal, seperti sekolah dan perguruan tinggi misalnya. Saya menjadi teringat akan kata-kata dosen filsafat di Universitas Brawijaya tempat perkuliahan saya. Ia mengatakan bahwa orang-orang saat ini hanya sibuk dengan urusan keilmuan-keilmuan yang kian begitu spesifik. Namun ia melupakan esensi pertama terciptanya suatu ilmu, dimana terciptanya suatu ilmu semata-mata untuk memudahkan terwujudnya kebutuhan-kebutuhan manusia, memuaskannya manusia satu dengan yang lain,  bukan hanya untuk kepuasan orang-perorangan.
Sebagian orang saat ini juga sudah mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan berdampak pada perilaku seseorang. Disamping perubahan karakter membutuhkan suatu perjuangan yang cukup berat, latihan untuk terus-menerus menghidupi nilai-nilai yang baik, ternyata faktor lingkungan sekitar juga tidak boleh terlepas dalam hal ini. Namun pada kenyataannya coba kita bandingkan pada sistem pendidikan di Indonesia saat ini yang secara umum masih dititikberatkan pada kecerdasan kognitif yang didapat dari orientasi sekolah-sekolah yang masih disibukkan dengan ujian semester, ujian akhir, hingga ujian nasional. Sudah saatnya para pengambil kebijakan, para pedidik, orang tua, dan masyarakat senantiasa memperkaya wawasan persepsi mereka bahwa ukuran keberhasilan tidak hanya semuanya dilihat dari prestasi angka-angka. Hendaknya institusi sekolah menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman-pengalaman bagi siswa untuk membangun dan membentuk karakter unggul. (intelektual, emosional, sosial, etika dan apresiasif).
Pendidikan karakter bukan hanya sekedar wacana tetapi realitas yang memang harus benar-benar diwujudkan, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan, dan bukan hanya symbol atau slogan, tetapi keberpihakan yang cerdas untuk membangun keberadapan bangsa ini. sesuai pada pancasila ideologi bangsa Indonesia ini yang juga ialah kristalisasi norma dan nilai-nilai luhur kebudayaan seluruh masyarakat Indonesia.
Terdapat juga beberapa aspek yang memerlukan penekanan dan perhatian yang lebih pada bangsa ini seperti aspek kejujuran misalnya. Karena melihat negeri ini masih banyak korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pada aspek keadilan, masih banyak sekali peranan hukum yang tidak melakukan esensi keadilan sesungguhnya. Selain itu fenomena tawuran antar warga, pelajar, dan antar etnis juga sangat memerlukan karakter toleransi, rasa hormat dan persamaan. Kita harus segera mengembalikan jati diri bangsa ini kembali. Jati diri sebagai bangsa yang unik, bangsa yang saling memahami antar kelompok suku budayanya, bangsa yang menjaga cintanya untuk berkesatuan, bangsa yang menganggap perbedaan adalah suatu indah yang mensejahterakan.

Dengan pendidikan yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa yang berlandaskan dengan pendidikan karakternya. Diharapkan anak-anak bangsa ini di masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera sejajar dengan bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar