Dewasa
ini pemerintah sangat berkomitmen untuk meningkatkan taraf pendidikan. Mulai
dari peningkatan 20% anggaran khusus untuk pendidikan, pembangunan-pembangunan
sekolah rusak, peningkatan taraf hidup, kualitas guru dan lain sebagainya.
Namun pada kenyataannya di lapangan, dalam era globalisasi dan keterbukaan
informasi ini. karakter berpendidikan masih saja kian terkikis nilai-nilainya.
Mulai dari lunturnya nilai-nilai kebangsaan yang dianggap sempit seperti
pendidikan moral berprilaku, patriotisme, dan nasionalisme yang di anggap tidak
cocok dengan nilai-nilai globalisasi.
Saat
ini orang hanya sibuk dengan penguasaan berbagai aspek keilmuan yang kian
begitu spesifik. Namun ia melupakan pengetahuan tantang kaidah moral yang
didapatkan dalam pendidikan moral atau etika di berbagai instuisi pendidikan
formal, seperti sekolah dan perguruan tinggi misalnya. Saya menjadi teringat akan
kata-kata dosen filsafat di Universitas Brawijaya tempat perkuliahan saya. Ia
mengatakan bahwa orang-orang saat ini hanya sibuk dengan urusan
keilmuan-keilmuan yang kian begitu spesifik. Namun ia melupakan esensi pertama
terciptanya suatu ilmu, dimana terciptanya suatu ilmu semata-mata untuk
memudahkan terwujudnya kebutuhan-kebutuhan manusia, memuaskannya manusia satu
dengan yang lain, bukan hanya untuk
kepuasan orang-perorangan.
Sebagian
orang saat ini juga sudah mulai tidak memperhatikan lagi bahwa pendidikan
berdampak pada perilaku seseorang. Disamping perubahan karakter membutuhkan
suatu perjuangan yang cukup berat, latihan untuk terus-menerus menghidupi
nilai-nilai yang baik, ternyata faktor lingkungan sekitar juga tidak boleh
terlepas dalam hal ini. Namun pada kenyataannya coba kita bandingkan pada sistem
pendidikan di Indonesia saat ini yang secara umum masih dititikberatkan pada
kecerdasan kognitif yang didapat dari orientasi sekolah-sekolah yang masih
disibukkan dengan ujian semester, ujian akhir, hingga ujian nasional. Sudah
saatnya para pengambil kebijakan, para pedidik, orang tua, dan masyarakat
senantiasa memperkaya wawasan persepsi mereka bahwa ukuran keberhasilan tidak
hanya semuanya dilihat dari prestasi angka-angka. Hendaknya institusi sekolah
menjadi tempat yang senantiasa menciptakan pengalaman-pengalaman bagi siswa
untuk membangun dan membentuk karakter unggul. (intelektual, emosional, sosial,
etika dan apresiasif).
Pendidikan
karakter bukan hanya sekedar wacana tetapi realitas yang memang harus benar-benar
diwujudkan, bukan hanya sekedar kata-kata tetapi tindakan, dan bukan hanya
symbol atau slogan, tetapi keberpihakan yang cerdas untuk membangun keberadapan
bangsa ini. sesuai pada pancasila ideologi bangsa Indonesia ini yang juga ialah
kristalisasi norma dan nilai-nilai luhur kebudayaan seluruh masyarakat
Indonesia.
Terdapat
juga beberapa aspek yang memerlukan penekanan dan perhatian yang lebih pada
bangsa ini seperti aspek kejujuran misalnya. Karena melihat negeri ini masih
banyak korupsi, kolusi, dan nepotisme. Pada aspek keadilan, masih banyak sekali
peranan hukum yang tidak melakukan esensi keadilan sesungguhnya. Selain itu
fenomena tawuran antar warga, pelajar, dan antar etnis juga sangat memerlukan
karakter toleransi, rasa hormat dan persamaan. Kita harus segera mengembalikan
jati diri bangsa ini kembali. Jati diri sebagai bangsa yang unik, bangsa yang
saling memahami antar kelompok suku budayanya, bangsa yang menjaga cintanya
untuk berkesatuan, bangsa yang menganggap perbedaan adalah suatu indah yang
mensejahterakan.
Dengan pendidikan
yang dapat meningkatkan semua potensi kecerdasan anak-anak bangsa yang
berlandaskan dengan pendidikan karakternya. Diharapkan anak-anak bangsa ini di
masa depan akan memiliki daya saing yang tinggi untuk hidup damai dan sejahtera
sejajar dengan bangsa lain di dunia yang semakin maju dan beradap.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar